DRAMA KEDAI KOPI

axioo eric alda 02 prewedding in korea_0(c) axioo.com

Sudah lewat tiga puluh menit aku terduduk di cafe ini, sendiri. Coffee Latteku masih tersisa separuh dan mulai dingin. Cafe ini mulai ramai dengan pengunjung, sayangnya kamu yang kutunggu-tunggu kehadirannya tak kunjung tiba. Sudah lewat jam lima sore. Seharusnya kamu sudah selesai bimbel dan duduk menemaniku di sini.

Aku mencoba berpikir positif, mungkin kamu terjebak macet di jalan atau mungkin sedang sedang mematut diri di depan cermin karena yang aku yang akan kamu temui. Aku tertawa membayangkanmu mematut-matut diri di depan cermin. Bersolek. Hal yang tak mungkin kamu lakukan sebagai cewek tomboy terkenal di sekolah.

“Taraaaaaaa…..”

“Hai Beb, udah lama ya nungguin aku? Maaf ya,…”

Aku terkejut melihatmu. Kamu benar-benar berbeda. Ada jepit rambut cantik berbentuk kupu-kupu di rambut pixiemu. Dress merah maron dengan vest jins biru tua membuat wajahmu lebih fresh. Kamu terlihat lebih feminim. Kemudian pandanganku mengarah pada kakimu.

“Dimaafin untuk dandan secute ini. hahahaha…. Tapi kok tetep pake sneekers, bukannya seharusnya pake heels ya?”

“Hehehehehe…Not now! Dari pada ntar di tengah jalan heelsnya aku jinjing mending pake sneekers.”

Aku senang melihatmu yang sekarang, sekaligus bertanya-tanya angin apa yang berhasil menghembuskan sifat tomboymu itu. Tanpa mengiraukan pandangan curigaku, kau melambaikan tangan memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman. Aku juga terkejut melihat gestur tubuhmu yang tiba-tiba berubah, dari kaku seperti lelaki menjadi lemah gemulai bak penari. aku semakin heran.

“Aneh nggak sih aku pake baju kayak gini? aneh ya?”

“Rada risih sih, malu gitu deh. abis nggak pernah pake dress gini.”

“Enggak kok sayang, kamu cantik. Cantik banget malah.”

“Serius? Kamu suka nggak kalo aku dandan kayak gini?”

“Suka kok, suka.” Aku berusaha tersenyum

“Suka kok, suka.” Aku berusaha tersenyum

aku tetap bertanya-tanya dalam diam. ke mana gadisku yang dulu? yang tak perlu berdandan saat akan bertemu denganku? yang tak perlu berkali-kali mematut wajah di depan cermin setelah menyeruput green tea latte-nya? Bahan percakapanmu juga berubah. dulu kau dengan mudah bisa diajak bicara mengenai segala hal, dari sepak bola, basket, hingga tetek bengek politik yang saat ini sedang kacau. Kini saat aku mencoba membahas skor sepak bola, kau mengganti topik menjadi fashion terbaru saat ini. aku mulai jengah.

“Kamu kenapa sih beb kok kayaknya nggak tertarik sama apa yang aku omongin?”

“Kamu kenapa sih? Jadi nggak asik gini?”

“Nggak asik gimana sih? Ngomong deh yang jelas. Aku bukan duku yang bisa baca isi pikiran kamu!”

“Kamu bener-bener berubah! Udah nggak bisa diajak ngobrol soal bola, basket, dan semua hal yang dulu sering kita bahas.”

“Emang ada yang salah kalo aku berubah? Bagus dong, berarti aku bisa jadi cewek yang bisa dilirik cowok. Bukan lagi cewek yang selalu setia jadi bak sampah cowok-cowok kalo mereka berantem ama ceweknya.”

BAAAMMM!!! Aku menahan amarahku mendengar ucapanmu. Hanya demi dilirik cowok kamu berubah 180 derajat seperti ini? Tanpa sadar tanganku melayang. Entah ke bagian mana, sepertinya kepala. Aku melihatmu jatuh tersungkur di lantai. Darah segar keluar dari hidungmu, menghapus make up tebal yang dari tadi kau persiapkan.

“CUT!!!” Suara itu terdengar dari kursi sutradara. Make up artist terburu-buru menambah memar di pipimu.

@CoffeeTaste Malang, 1 Juli 2013

cheyuanita feat budiono

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s