SURAT UNTUK IBU

vintage-bedroom-ideas copy

 

Ibu,

Aku tak tahu apakah mengirim surat ini adalah tindakan yang bisa dibenarkan, Setelah kepergianku yang tak bisa Ibu cegah saat itu. Mungkin dimata Ibu, aku adalah anak yang durhaka pada orang tua, karena tak mau mendengarkan nasihat yang Ibu berikan.

Ibu pasti sangat kecewa, anak semata wayangnya ini memilih untuk meninggalkan keraton dan memulai hidup di negeri orang tanpa sepengetahuan Ibu sebelumnya. Meninggalkan Ibu dalam keterkejutan dan penjelasan seadanya. Maaf Ibu, jika aku memberi tahu Ibu lebih dulu, pasti aku akan meragu. Ibu pasti tak mengijinkan, kemudian Ibu akan menjelaskan sederet kecemasan yang menurutku tak beralasan. Selanjutnya Ibu pasti tahu apa yang akan terjadi. Kita mulai beradu mau dan saling berseteru. Aku tak ingin ini terjadi.

Melalui surat ini aku ingin Ibu tahu bahwa aku baik-baik saja di sini, Rania juga ingin minta maaf atas segala pemberontakan yang telah Rania lakukan terhadap Ibu. Aku sama sekali tak berniat untuk menyakiti hati Ibu atau melawan titah Ibu. Ketahuilah bahwa putri semata wayangmu ini teramat mencintaimu. Tak ada sedikitpun terbesit keinginan untuk membuat Ibu sedih atau menangis.

Aku ingin sedikit bercerita pada Ibu, karena aku tahu jika kita membicarakan ini pasti kita hanya akan saling bersitegang, tak ada yang mau saling mendengarkan.

Semua berawal sejak Ibu mulai bersikap otoriter dan membatasi segala akses hidupku. Disinilah awal pemberontakanku dimulai. Pemberontakanku pada diri sendiri sekaligus kepada Ibu. Setelah delapan tahun aku hidup dibawah titah Ibu, aku mulai lelah. Tahukah ibu bahwa sejak itu aku merasa kehilangan rumah. Dirimulah satu-satunya alasan mengapa aku selalu ingin pulang. Pulang ke rumah yang kau bangun dengan hangatnya cinta dan tulusnya kasih. Tetapi semua kehangatan itu mulai lenyap tergantikan oleh sikap otoriter Ibu yang tak pernah memberiku pilihan. Aku merasa menjadi boneka bagi Ibu. Ibu seperti berusaha menghilangkan “aku” dalam diriku sendiri. Ini sungguh menyakitkan bagiku, Ibu.

Aku ingin jalanku sendiri. Aku ingin membangun hidupku sesuai dengan impianku. Menapak jalan hidup yang tak terduga dan penuh kejutan. Jalan yang terkadang mulus, berkerikil, bahkan berlubang, tak jarang pula aku akan terjatuh, dan harus bangkit lagi meneruskan perjalanan. Meskipun aku seorang anak, tetapi aku tetaplah seorang individu yang memiliki esensi sebagai manusia seutuhnya.

Sebenarnya karena alasan inilah aku memutuskan untuk pergi tanpa sepengetahuan Ibu. Aku ingin mencari rumahku sendiri. Rumah yang akan membentukku menjadi wanita yang tangguh. Bukan rumah yang penuh dengan kekangan dan larangan. Dan disinilah aku sekarang, Swiss. Negara yang menghadirkan rumah yang kuharapkan. Mungkin jika Ibu tahu akan begidik melihat kondisi tempat tinggalku yang kecil, tak seluas rumah kita. Tetapi justru ditempat inilah aku selalu memiliki alasan untuk kembali pulang. Di sini aku memiliki murid-murid yang tak pernah alpha menyambut kehadiranku saat pagi di depan gerbang sekolah. Setiap sore diakhir pekan selalu ada Café yang menunggu untuk kukunjungi. Di hari minggu ada sebuah taman yang tak sabar dilukiskan keindahannya dengan kuas dan catku. Di sinilah rumahku sekarang, tempatku bertualang, tempatku menemukan siapa aku tanpa baying-bayang Ibu.

Ibu… aku hanya ingin Ibu belajar melepaskan aku. Ijinkan aku menjadi menjadi Rania seutuhnya. Rania tanpa bayang-bayang masa lalu Ibu, Biarkan aku tumbuh secara alami. Aku tahu ini pasti berat bagi Ibu, tapi percayalah ini jalan terbaik yang harus kita tempuh. Jika aku tak melakukan ini, kita akan terus saling berseteru.

Ijinkan kita belajar saling jujur pada perasaan masing-masing, tak ada lagi topeng. Meski tak selamanya terlihat indah. Tapi inilah sarana bagi Ibu dan Rania untuk belajar menghubungkan hati.

Hanya ini yang ingin aku sampaikan pada Ibu, semoga bisa membuat Ibu lebih tenang dan Ibu juga berkenan membuka sedikit saja pintu hati untuk Rania. Terima kasih sedalam-dalamnya untuk semua petuah dan prinsip yang pernah Ibu ajarkan dan juga cinta kasih yang tak pernah habis Ibu berikan untuk putri semata wayangmu ini.

 

Peluk cium,

Rania

 

2’06’14 – rumah, 07.00 pm

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s